Orientasi Pembina PMR Tahun 2024, Wujudkan Konsistensi Pengembangan SDM PMI

Salah satu program rutin PMI Kota Banjar dalam membina SDM adalah diadakannya Orientasi Pembina PMR. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membekali Pembina PMR baru dengan pengetahuan tentang manajemen PMR, dan menjadi ajang refresh kembali bagi pembina PMR yang telah mengikutinya. Sekaligus menjadi ajang pemantauan dan evaluasi PMI tentang pembinaan PMR di sekolah. Tahun ini, orientasi pembina PMR dilaksanakan pada Kamis – Sabtu, 16 – 18 Mei 2024 di Aula SMKN 2 Banjar dan Area Pusdai Kota Banjar.

PMI berkoordinasi dengan PMI sekitar dan membuka peluang belajar bersama, maka tak heran ada pembina dari kota terdekat turut mengikuti kegiatan. Peserta orientasi kali ini terdiri dari 12 pembina PMR di Kota Banjar, 2 calon pembina PMR mula, 4 orang pembina PMR dari Kota Ciamis, yaitu SMPN 1 Panjalu, MAN 4 Ciamis, SMAN 1 Pamarican, dan MTs Al Hasan Ciamis. dan 2 orang KSR PMI Kota Banjar yang dipersiapkan untuk dapat memfasilitasi PMR kedepannya. Jumlah peserta 20 orang.

Hari pertama, setelah disampaikan sambutan dari pihak tuan rumah, SMKN 2 Banjar yang telah memberikan tempat refresentatif untuk kegiatan ini, Ketua PMI Kota Banjar, Drs. H. Supratman, M. Si membuka orientasi dengan hidmat. Seperti standar pelatihan PMI biasanya, orientasi dimulai dengan perkenalan, menentukan KAP, menyepakati norma dan menuliskan harapan di media yang telah disediakan.

Hal ini perlu dan baik dilakukan agar peserta merefleksikan diri setiap hari di kondisi apakah dirinya berada, menuliskan dengan jelas apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Materi utama di hari pertama orientasi adalah kepalangmerahan yang disampaikan oleh kepala markas PMI Kota Banjar, Defi Suwandana. Pembina / guru sebagai TSR PMI wajib mendapatkan pengetahuan/ refresh tentang sejarah, komponen gerakan, prinsip-prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit merah internasional, lambang dan PMI, juga tentang hukum humaniter internasional. Beliau sangat menyoroti bahasan lambang dimana penggunaan nya masih banyak yang kurang tepat di lapangan, besar kemungkinan karena bermula dari ketidaktahuan.

Dalam kesempatan ini, pembina PMR di Banjar mendapat kesempatan sharing dan beberapa penguatan dari Bapak Freddy Nggadas, utusan ICRC Jakarta.

Materi selanjutnya adalah tentang donor darah yang disampaikan oleh dr. Andika sebagai kepala UDD PMI Kota Banjar, beliau menyampaikan syarat dan manfaat donor darah juga fakta dan data tentang kebutuhan darah di kota Banjar.

Hari kedua orientasi masih di aula SMKN 2 Banjar, peserta mendapat materi manajemen PMR, didalamnya dibahas tentang siklus manajemen PMR yaitu, perekrutan – pelatihan – tri bakti PMR – pengakuan dan penghargaan – pemantauan dan evaluasi. Perekrutan merupakan awal dari pembinaan, bagaimana cara promosi dan publikasi yang dilakukan oleh pembina/ PMR menentukan keberhasilan perekrutan anggota baru / unit baru PMR pada tahun ajaran baru. Pelatihan PMR, sudah memiliki kurikulum yang jelas dari PMI Pusat, PMR akan belajar 7 materi yaitu Gerakan, Pertolongan Pertama, Kesiapsiagaan Bencana, Kesehatan Remaja, Donor Darah, Kepemimpinan, Sanitasi dan Kesehatan. Dengan beban kurikulum yang cukup tinggi, maka sangat diperlukan kreativitas pembina dalam mengelola pelatihan, metode dan media dibuat menarik untuk menghindari kejenuhan dalam latihan. Program kerja pembinaan PMR dapat dikemas dalam kegiatan internal dan eksternal.

Tahap ketiga dari siklus manajemen PMR adalah tri bakti. Setelah melakukan perekrutan, anggota PMR dilatih untuk memunculkan karakter baik yang diharapkan, yaitu sehat, ceria, kepemimpinan, kerjasama, peduli, bersih, bersahabat dan kreatif. Tri Bakti PMR yang meliputi meningkatkan keterampilan hidup sehat, berkarya dan berbakti di masyarakat, mempererat persahabatan nasional dan internasional adalah aplikasi dari pengetahuan yang diperoleh PMR sebelumnya.

Tahap selanjutnya adalah pengakuan dan penghargaan. Pembina memberikan pengakuan dan penghargaan dalam bentuk formal misal nya dengan pelantikan, pemberian sertifikat, penunjukan PMR untuk lomba, mengikuti acara resmi PMI. Sedangkan secara informal dapat dilakukan dengan main bersama, makan bersama, senyum dan sapa PMR , berikan ucapan selamat pada keberhasilan nya dibidang lain dan lain sebagainya. Pengakuan dan penghargaan penting untuk pelestarian anggota. Tahap yang terakhir adalah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan baik oleh PMR sebagai refleksi diri, oleh pembina dan PMI. Di akhir pertemuan kedua, peserta orientasi melakukan activity project mendiskusikan kegiatan yang dilakukan di tiap tahap siklus manajemen PMR.

Hari ketiga orientasi dilaksanakan di outdoor, di area Pusdai. Setelah melakukan review materi hari sebelumnya, secara berkelompok peserta mendiskusikan proposal kegiatan PMR yang akan dilakukan di sekolah. Di akhiri dengan outbound ( rafeling dan main perahu) diharapkan kegiatan orientasi berkesan dan membuahkan hasil yang diharapkan. Terbentuknya penguatan pemahaman pada pembina dan meningkatnya hasil pembinaan PMR di sekolah.
Sampai jumpa di orientasi pembina tahun depan.

By : Siti Maryam

Add a Comment