Dewasa

Saat kita harus tersenyum, meski hati tertoreh luka begitu dalam

Manusia adalah makhluk sempurna dengan akalnya. Hidup mengalami beberapa fase, salah satunya fase dewasa. Ketika aku kecil, kukira hidup itu seru, bebas berekspresi, dan tumbuh dengan paras cantik, sehingga aku tak sabar menanjak dewasa. Tapi kini ekspektasi itu menampar habis-habisan tepat diusiaku yang ke-18 Tahun. Biasanya aku hanya menangis ketika sedih. Namun, kali ini berbeda. Aku harus berpikir bagaimana mengubah nasib dan kondisiku, mengesampingkan tangis membendung. Sebenarnya aku bingung dengan status baruku sebagai manusia dewasa. Beberapa pertanyaan seringkali muncul. Bagaimana berpikir jernih kala amarah mengusai akal? Bagaimana bersikap profesional ketika jiwa dan raga terluka? Dan bagaimana caranya agar kaki tetap berdiri tegak menopang tubuh yang sebentar lagi runtuh? Sungguh, aku sangat tidak tahu jawabannya.

Mentari terbit dengan cahayanya, namun tidak dengan cahaya hidupku. Di sanalah semuanya berawal. Akhir-akhir ini bapak dan mama bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga kami. Pagi hingga menjelang sore mereka habiskan waktu di sawah, mengadu nasib kepada sang alam. Hingga suatu hari keduanya kehujanan. Air dari langit turun dengan deras bak tak pernah surut. Bajunya habis basah kuyup. Terakhir kali aku melihat semangat yang membara pada diri bapak sampai hari ini. Malamnya, tiba-tiba bapak meraung-raung kesakitan. Aku bingung. Bingung sekali harus berbuat apa.

Pikiranku berkecamuk. Mataku kian nanar saat bapak semakin merasakan sakit. Mama hilir mudik mencari obat dan memijit tubuh bapak. Aku tak bergerak sedikit pun dari posisi dudukku. Kedua bola mataku tenggelam meneteskan air mata. Seyogyanya aku ingin membantunya, tapi aku sangat takut. Takut kehilangan seseorang yang selama ini menjadi kekuatanku dan semangatku dalam meraih impian.

Detik, menit terasa begitu lambat. Beberapa kali kuusap derai air mata yang mengalir. Berharap tidak seorang pun melihat aku menangis, termasuk bapak. Aku berusaha keras agar tak terdengar sesenggukan. Dadaku pun naik turun, sesak tak terkira. Ingin sekali rasanya berteriak sekencang-kencangnya di hutan, gunung, atau tempat tanpa adanya manusia. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala yang ada dalam dada, otak dan hatiku. Sepertinya mati rasa akan menjadi hal baik, ketika hati tak siap mendengar kabar duka.

“Lari dari masalah bukan lah solusi yang tepat. Hadapi bahkan taklukkan. Biar ombak kehidupan saja yang bertekuk lutut padamu.”

Setelah bersusah payah mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, kukuatkan langkah mendekati bapak. Tanganku meraih kakinya yang hanya dilapisi kulit. Spontan aku menggigit ujung bibir. Mungkin, sudah saatnya bapak istirahat. Tidak lagi bekerja keras seperti ini. Pikiranku melayang dibawa angin malam. Saat ini bapak sedang membutuhkanku, tidak seharusnya aku ciut dan lemah. Aku harus menguatkannya, membesarkan hatinya seperti yang bapak lakukan ketika aku sakit.

Waktu yang menegangkan pun telah berlalu. Aku menatap lamat-lamat seorang laki-laki yang membela hidupku, memberikan kasih sayang kepadaku, sedang tidur terkapar di kasurnya. Jaket merah yang jarang dipakainya kini membalut tubuhnya. Ya Allah … ketika sesungguhnya diriku sendiri bukan milikku, lantas mengapa aku harus merasa memiliki bapak? Bukankah semuanya adalah titipan-Mu, yang tentu saja suatu hari nanti Engkau bebas mengambilnya, bukan? Kenapa aku harus merasa kehilangan? Aku menutup mataku sempurna dengan kedua tangan. Hari ini sudah terlalu lelah untuk mengajak hati dan logikaku berpikir. Tak terasa lambat laun suasana menjadi gelap.

***

Langit telah menemukan paginya. Warna biru cerah terbentang luas. Angin masih dengan tugasnya yaitu menyegarkan. Tanah pun tetap membumi tak kalah kokohnya dengan sang langit. Begitu juga dengan hariku. Kemarin menjadi masa lalu dan hari ini adalah masa kini. Pukul 7 pagi, jam di dinding terus berdentang. Bukannya bersiap ke sekolah, aku malah sibuk membersihkan rumah. Tidak tanpa alasan, setelah Penilaian Akhir Semester (PAS) tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar yang efektif. Hanya beberapa lomba olahraga yang diselenggarakan oleh OSIS. Sehingga membuatku santai, tidak seperti biasanya.

Hatiku asik mengira-ngira hal apa yang akan terjadi hari ini. Setelah apa yang terjadi kemarin, aku tidak bersemangat menjalani hari. Biasanya aku berangkat diantar bapak, kali ini tidak bisa. Bapak masih terkapar lemah. Sesekali bapak menangis sambil mengungkapkan rasa sakitnya. Bapak tak berdaya, aku pun merasakan hal yang sama. Sudah lah, aku harus pura-pura kokoh dan kuat. Sepeda yang terakhir kali kugunakan semasa SMP kini mengantarkanku menuju sekolah.

“Terima kasih, sepeda. Dulu kau telah menemaniku menerjang panas dan hujan, tentu saja untuk meraih impianku. Kini aku kembali memakaimu. Terima kasih sudah sabar dengan majikan resemu ini hehe …,” ucapku terkekeh sendiri.

Aku mengayuh sepeda dengan lambat. Entah meniru cara bersepeda bapak, menikmati pemandangan sekitar, atau justru menatap sekeliling kosong. Bibirku berusaha melukis senyum ketika bertemu dengan beberapa orang di jalan. Aku kembali melakukan rutinitas yang sudah lama kutinggalkan. Hampa sekali rasanya tidak diantar bapak. Untuk mengisi kekosongan itu, aku mengenakan jas merah. Sebuah jas yang amat bersejarah. Aku merasa tegar dibalutnya. Aku tidak lagi ragu dan takut menghadapi dunia. Meski badai jiwa sedang memorak-porandakan hatiku, dengan berani aku akan mencoba menaklukannya. Nasihat guruku di pesantren terngiang-ngiang merdu. “Ketika sedih kita harus ingat bahwasanya kesenangan menanti. Begitu juga ketika senang, sebentar lagi kesedihan akan menghampiri. Jangan terlalu berlebihan dalam segala hal. Karena semua akan ada masanya datang dan pergi. Tabahlah!”

Langensari, 28 Desember 2021

Penulis : Dinar Nur FadilahSMA Negeri 2 Banjar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hay, ada yang bisa kami bantu?