Alkisah diceritakan seorang lelaki yang lahir di Ciamis tanggal 24 Juni 1987, suatu kota yang lumayan padat penduduknya hingga banyak sekali daerah-daerah yang tidak tersentuh oleh para pejabat publik untuk pemerataan sarana publik, yang paling menonjol adalah masih banyak jalan-jalan yang rusak karena luasnya Kabupaten Ciamis, semasa kecil aku tinggal bersama ibu dan ke 4 saudaranya, lalu ayahnya?ayahnya bekerja di ibu kota negara Indonesia yaitu Jakarta, rinduku tebal ketika berpisah dengan ayah karena harus bekerja, sedari dulu aku sudah dan harus terbiasa menghabiskan waktuku tanpa ada ayah disampingku, tak mengapa karena aku mempunyai sosok tangguh seorang ibu yang rela bangun ketika matahari masih terlelap dalam tidurnya, beliau dengan sigap sudah bersiap untuk bertempur ke medan perang “dapur”, dengan bersenjatakan pisau, sendok, panci dan wajan..terdengar irama-irama besi beradu dengan kayu, besi dengan besi..dan jeritan teko yang berisi air karena dibakar api menandakan bahwa air sudah berada pada suhu yang paling panas, itu berarrti air sudah layak untuk diminum karena bakteri dan kuman-kuman sudah mati karena panasnya api yang berasal dari kompor minyak tanah. Sayup-sayup terdengar “aa bangun sudah subuh” tapi aku masih glendotan diatas kasur ditemani guling lecek dengan sarung bantal yang sudah berubah warna, tak lama terdengar suara derap kaki yang menaiki tangga, karena aku tidur di lantai 2, tak lama kemudian JETRAAK…pintu kamar dibuka dengan sangat kencang sekali, lalu ada sambaran petir dini hari “ARI AA GEUNINGAN NYA DIBANGUNIN TITADI TEU NYARING-NYARING, DIBANJUR GEURA” setelah mendengar petir menyambar, tak butuh waktu satu detik aku terperanjat bangun setengah loncat, lalu¬† buru-buru turun ke bawah, ambil wudlu kemudian solat subuh.

Untuk masa sekolah aku terbilang yang beruntung karena posisi sekolahku sangat dekat dengan rumahku, itu untuk SD, kalau SMP aku harus naik angkot dan waktu SMA aku sudah dibekali sepeda jepang alias motor oleh ayah, sungguh masa-masa yang sangat aku rindukan sekali.

Saat ini aku sudah bekerja dan berumah tangga dengan bonus yang allah berikan kepadaku yaitu 2 orang jagoan, yang pertama sudah kelas 3 SD sedangkan yang ke dua baru sekolah di RA, aku masih setia dengan profesiku yaitu GURU salah satu profesi yang mungkin bisa disebut mulia karena GURU memberikan cahaya didalam gelap dengan ilmu yang dia miliki sehingga anak-anak yang tidak tahu menjadi tahu, pun bila dibandingkan dengan profesi yang lainnya untuk urusan kesejahteraan mungkin GURU masih dibawah dari para pejabat-pejabat negara, namun tanpa adanya guru, mana mungkin tercipta para pejabat negara :D, intinya aku selalu bersyukur dengan apa yang aku dapatkan. 

Selain menjadi guru, aku mempunyai tugas tambahan apa itu? hal-hal yang berbau-bau TIK pasti muaranya tidak pada yang lain..pasti lah bermuara padaku, tapi aku sangat menikmatinya, karena dari dulu aku suka sekali dengan dunia TIK, sampai-sampai temanku ada yang bilang, “wajah kamu jadi kotak kayak monitor”, karena aku memang lebih sering menghabiskan waktuku didalam lab komputer, yang paling membuatku bangga dan mungkin membuatku kurang tidur dan gak enak makan karena saat ini aku memegang peran yang mungkin penting untuk kelangsungan operasional sekolah tempatku bekerja, apa itu?ya..the nightmare…DAPODIK alias Data Pokok Pendidikan, itu merupakan sebuah aplikasi yang berisi data-data yang ada pada satuan pendidikan, baik itu data sarana prasarana, siswa, data pendidik dan tenaga kependidikan, yang paling mengerikan itu apabila sudah ketemu dengan tulisan warna merah tua dan bertuliskan INVALID, ketika sudah ketemu dengan yang namanya INVALID itu yang tadinya mau makan banyak jadi gak selera, mw tidur jadi gak bisa tidur karena takut mimpi buruk akibat dihantui oleh INVALID, namun karena mungkin mentalku sudah terasah dengan baik akibat INVALID itu, aku jadi bisa menyelesaikan sendiri permasalahan yang menyebabkan data itu INVALID, dan nafsu makan dan tidur nyenyak itu akan kembali setelah merah tua berubah menjadi hijau alias si INVALID udah pergi jauh kembali ke asalnya, sampai detik ini, aku masih dan selalu setia menjadi “pemulung data”

–Vikri Setiawan–

Print Friendly, PDF & Email