Sekelumit Kearifan Lokal di Desa Pataruman

Kearifan lokal bersifat lokal atau  kedaerahan yang mencerminkan karakteristik daerah masing-masing. Salah satu wujud kearifan lokal yaitu budaya. Kebudayaan sangat erat kaitannya dengan adat istiadat. Jika berbicara mengenai kebudayaan, Indonesia memiliki ribuan kebudayaan. Salah satu contohnya adalah sedekah bumi atau syukuran.

Menurut Inibaru.id (Mei 29, 2019) Sedekah Bumi dimaknai sebagai bentuk menghargai alam sekaligus syukur kepada Tuhan. Dalam Filosofi Jawa, sedekah bumi merupakan bentuk terima kasih masyarakat pada alam. Kendati hidup dari alam, manusia memang sering bertindak semena-mena dengan mengeksploitasinya.

Sedekah bumi mengandung nilai-nilai kearifan lokal, seperti (a) Nilai Agama; (b) Nilai Moral; (c) Nilai Persatuan dan Toleransi; (d) Nilai Gotong Royong; (e) Nilai Seni; (f) Nilai Budaya dan (g) Nilai Ilmu Pengetahuan, sebagaimana dilansir Karya-ilmiah.id, 2018. Sedekah bumi merupakan kebudayaan yang sering kita jumpai di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sedekah bumi dilaksanakan pada acara-acara tertentu, seperti memperingati Tahun Baru Islam, dan acara-acara penting lainnya.

Budaya ini dilaksanakan pada awal bulan Muharam/Sura. Tempat pelaksanaan acara ini awalnya dilakukan di jalanan, namun sekarang dilaksanakan di halaman masjid, balai desa, atau tempat terbuka seperti lapangan.

Budaya sedekah bumi biasanya menggunakan sesajen. Sesajen yang penting dalam budaya ini adalah bubur yang dibuat dari berbagai macam biji-bijian, umbi-umbian, sayuran, dan buah, serta hasil bumi untuk dimakan dan dikuburkan. Pada masa modern ini, beberapa makanan yang sangat tradisional mulai hilang dan diganti beberapa makanan kampung lain yang bisa dianggap hasil bumi, seperti yang sering kita jumpai yaitu nasi tumpeng. Ketika akan membuat sesajen untuk sedekah bumi warga melakukan pembagian tugas, warga akan terbagi menjadi beberapa kelompok, warga A akan membuat nasi tumpeng, warga B akan membuat kue-kue tradisional seperti nagasari, kue lumpur, dadar gulung dan masih banyak lagi, dan warga C membuat ayam goreng. Dengan adanya pembagian tugas, hal tersebut akan menumbuhkan rasa kebersamaan antar warga.

Contoh budaya Sedekah Bumi, bisa tersaji di lingkungan Kelurahan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat. Untuk melestarikan budaya tradisional dan sekaligus memperingati Tahun Baru Islam 1441 Hijriah, warga lingkungan Pataruman, RT 01, RW 13, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar menggelar budaya syukuran atau sedekah bumi. Dalam acara tersebut ada beberapa tokoh masyarakat yang turut hadir seperti Wakil Wali Kota Banjar, Kabid Kebudayaan, serta Lurah Pataruman, sebagaimana diberitakan Kominfo Banjar ( September 19, 2019).

Dengan adanya acara kebudayaan sedekah bumi di Desa Pataruman, menjadikan desa tersebut pelestari budaya, supaya kebudayaan tersebut tidak hilang. Selain itu, dengan adanya budaya tersebut di Desa Pataruman, hal itu juga menjaga nilai sosial di lingkungan masyarakat tersebut, menjalin silaturahmi antar warga, kebersamaan, dan gotong royong, sehingga bisa  terpelihara dan menjaga hubungan antar warga di Desa Pataruman secara harmonis.

Selain wujud nyata hubungan sosial, sedekah bumi di Desa Pataruman juga mengadakan acara yang cukup menarik, seperti, diadakan lomba untuk anak-anak dan untuk beberapa komunitas warga di wilayah  Desa Pataruman. Menurut indonesiabaik.id, lomba yang diadakan berupa lomba-lomba tradisional seperti lomba makan kerupuk sebagai penggambaran rakyat Indonesia di masa penjajahan yang mengalami kesulitan pangan, lomba tarik tambang memiliki makna gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas warga, lomba balap bakiak lomba ini memiliki filosofi semangat kekompakan, dan lomba panjat pinang.

Namun, di masa sekarang, dimana orang-orang tidak diperkenankan untuk berkerumun, dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang sedang berjalan, apakah ada cara untuk melestarikan budaya sedekah bumi di masa pandemi COVID-19?

Tentu saja, para tokoh agama dan tokoh masyarakat berupaya agar protokol kesehatan tetap dijalankan dengan ketat. Jaga jarak, tidak berkerumun, dan peserta yang hadir dibatasi panitia. Para tokoh berdoa di hadapan sajian makanan yang disediakan panitia. Sajian makanan sebagai ungkapan rasa syukur dan kemudian dibagikan kepada warga masyarakat terutama anak-anak terutama mereka yang sangat membutuhkan. Hal tersebut menjadi sebuah wujud nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki dan sangat terasa suasana kebersamaan dan kekeluargaan.

Sebagai pelajar, saya dan teman-teman tentu harus membantu dalam pelestarian kebudayaan seperti sedekah bumi tersebut. Harapannya kebudayaan tersebut tidak hilang. Melalui makna nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan, sedekah bumi menjadi wadah yang sangat tepat untuk melestarikan kebudayaan yang sangat humanis tersebut.

Pandemi covid-19 membawa dampak yang cukup buruk dalam masyarakat, menurunnya sistem ekonomi, kesulitan mendapat pekerjaan, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang dilakukan secara massal, membuat sebagian besar masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pangan. Oleh karena itu, saat masa pandemi seperti ini banyak orang-orang di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan cara ini kita dapat terus melestarikan budaya sedekah bumi sebagai sebuah ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah, sekaligus bisa membantu orang-orang di luar sana yang membutuhkan bantuan bahan pangan. Semoga!

Penulis: Linatus Sururoh Siswa SMA Negeri 2 Banjar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hay, ada yang bisa kami bantu?