Perpisahan, Harapan, Cita-Cita, dan Doa

“Kemauan keras dan kehendak yang kuat, itulah pondasi sebuah kesuksesan.” (Habiburrahman El-Sirazy)

Sebuah pertemuan kelak akan menemukan sebuah perpisahan. Tiga tahun berlalu aku berada di kelas IPA 4 bersama dengan celotehan garing, kerja tim, dan haha hihi huhu yang tercipta di sana. Tak terasa waktu begitu cepat. Tidak ada lagi kerja keras, kerja cerdas, kerja kelompok, dan marah-marah. Aku melihat kelas dengan nanar. Ruang itu begitu lengang dan sepi bak kehilangan jiwanya. Seketika memoriku memutar peristiwa demi peristiwa yang pernah tercipta. Sungguh, telah tiba masanya untuk belajar dari masa lalu dan tetap hidup di masa kini.

Hari ini mungkin pertemuan kompak terakhir sebelum kami menyebar ke segala penjuru semesta untuk meraih cita-cita. Tepat pada malam Nuzulul Qur’an, 17 Ramadan 1443 Hijriah, kami membagikan beberapa bungkus makanan untuk berbuka puasa. Selain itu, buka bersama menjadi agenda terakhir di sore hari ini. Aku dan beberapa kawanku yang sedang nganggur pun saling bercerita tentang rencana untuk melanjutkan kehidupan. Beberapa di antara kami sudah jelas menatap masa depannya dan ternyata banyak juga yang masih remang-remang, meraba-raba ke mana langkah kaki akan berpijak.

Pada dasarnya semua sudah ditentukan. Meski bingung, ragu, dan takut mau singgah di mana, pasti tanpa disadari kita akan terus berjalan perlahan bahkan tertatih-tatih. Hingga akhirnya kita tidak lagi menyadari bahwa kita pernah merasa tidak tahu caranya melanjutkan perjalanan kehidupan. Ternyata hidup adalah proses mengulang. Dulu kita pernah bingung mau sekolah SD di mana, SMP di mana, dan seterusnya. Hanya saja kita mengulang kehidupan dengan konteks yang lebih kompleks. Aku bersyukur karena aku, kamu, dan kita tetap menikmati proses menatap masa depan dengan harapan yang lebih baik lagi. Because everything will be okay,” (Teh Tia). Ya, semua akan baik-baik saja.

Demi mengefisienkan waktu, aku dan seorang temanku harus pamit lebih awal. Harapan, doa, dan tatapan yang meneduhkan hadir di tengah-tengah kami. Meski jarak berjuta kilometer dan dimensi waktu yang akan segera memisahkan,

hangatnya doa akan tetap menguatkan. Teman-teman … mari sama-sama berjuang meraih mimpi yang menjulang tinggi dengan tekad kuat, ikhtiar maksimal, dan doa. Pada akhirnya hati kita tidak akan lagi meminta hadir kembali di masa lalu karena kurangnya kinerja di masa sekarang. Biarkan hari-hari berlalu dengan pencapaian demi pencapaian maksimal yang kita mampu.

Terakhir dan tidak akan pernah berakhir, kuucapkan terima kasih banyak kepada seluruh bapak dan ibu guru SMAN 2 Banjar yang telah membimbing, mendidik, dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Tanpa kalian semua, aku tidak akan pernah menjadi aku yang saat ini. Khusus kepada wali kelas X, XI, dan XII IPA 4, Ibu Yulianti Budi Rahayu, S.Pd.S.i, Ibu Rizki Wijayanti, S.Pd, dan Bapak Muhammad Toha, S.Pd.M.Pd, terima kasih banyak atas arahan, ilmu, semangat, dan motivasi yang telah engkau tularkan kepada kami. Doakan kami di mana pun kami berada, semoga dapat menjadi generasi muda yang cerdas emosional, spiritual, dan intelektualnya. Doakan kami agar bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan berpendidikan. Amin. Seperti kata Nelson Mandela bahwa, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia.” Tabik!

Penulis : Dinar Nur Fadilah – Alumni SMA Negeri 2 Banjar Angkatan 2022

3 thoughts on “Perpisahan, Harapan, Cita-Cita, dan Doa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hay, ada yang bisa kami bantu?