Langit Alfarellza Danendra

Langit terhenti dari langkah nya, menoleh kebelakang dan menatap bulan. ia sempat terdiam beberapa detik karna mendengar bulan memanggilnya dengan nama lengkap. ‘bulan sudah mencapai batasnya’ pikir langit

“disini bulan, tepat di hadapanmu. ada apa lagi?”

bulan hanya diam, menatap lurus tepat pada mata langit. ‘dia menahan sakit?’ langit berpikir seperti itu, ia berusaha mendekati bulan namun bulan melangkahkan sedikit kakinya kebelakang.

“jangan dekat dekat langit, ada hal yang ingin aku sampaikan”

“Iya, baik. aku tetap disini”

cukup lama bulan terdiam, langit menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya.

“aku, menyerah langit. ini terlalu sakit, terimakasih ya? walaupun aku menyerah, cintaku untukmu tidak berubah. Tapi, aku juga tidak bisa kembali kepadamu langit, terlalu sakit”

langit menahan nafasnya sejenak lalu menatap bulan. Ia terkejut, melihat bulan yang sedang tersenyum namun juga menangis.

“ini, aku berikan bunga ini untukmu. yang ini warna nya cantik karna biru, banyak melambangkan hal yang romantis. tidak seperti mawar putih yang sebelumnya, tolong di simpan ya? jangan di berikan lagi kepada seseorang seperti mawar putih, nanti dia sedih.”

Bulan meninggalkan langit setelah berbicara seperti itu dan memberikan setangkai mawar biru. langit hanya memperhatikan punggung bulan yang semakin menjauh, rasa nya, rembulan tidak akan kembali lagi betulan ya?’ pikir langit sambil memperhatikan mawar biru yang sedang ia genggam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hay, ada yang bisa kami bantu?